![]() |
| Dr Asman, M. Ag |
Oleh : Dr. Asman, M. Ag (Bidang Keahlian Hukum Keluarga Islam)
Konflik dalam kehidupan rumah tangga adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Setiap pernikahan pasti mengalami berbagai perbedaan pendapat, benturan emosi, atau salah paham. Namun, yang menjadi penentu antara rumah tangga yang bertahan dan yang tidak adalah bukan tidak adanya konflik, tetapi cara bagaimana konflik itu dikelola.
Dalam hal ini, teladan dari Rasulullah SAW memberikan sebuah panduan hidup yang holistik untuk menangani konflik dalam rumah tangga, panduan yang masih sangat relevan hingga saat ini, bahkan di tengah tantangan keluarga pada era modern.
Sayangnya, pendidikan pranikah dan pembinaan keluarga sering kali terbatas pada pembahasan fiqh formal, rukun nikah, hak serta kewajiban pasangan suami istri, serta hukum perceraian.
Sebagai tambahan, Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan aspek hukum, tetapi juga menunjukkan secara langsung nilai-nilai akhlak, keterampilan komunikasi, empati, dan penyelesaian konflik dalam kehidupan sehari-hari di rumah tangganya.
Rasulullah SAW sebagai Teladan Resolusi Konflik
Rasulullah SAW menjalani kehidupan rumah tangga yang sangat wajar. Beliau menghadapi perasaan cemburu, perbedaan sifat, serta dinamika emosi di antara para istrinya. Meskipun demikian, tidak ada satu pun perselisihan yang diselesaikan dengan tindakan verbal atau fisik yang kasar.
Aisyah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah memukul istrinya atau pembantunnya (HR. Muslim). Ini bukan hanya soal etika pribadi, tetapi juga merupakan dasar penting dalam kurikulum penyelesaian konflik dalam keluarga Islam.
Berdasarkan kajian Abdul Halim Abu Syuqqah (1995) dalam Tahrir al-Mar’ah fi ‘Ashr al-Risalah, hubungan di dalam rumah tangga Rasulullah SAW dibangun atas dasar musyawarah, kesetaraan dalam martabat, dan saling menghormati secara emosional. Pertikaian tidak diabaikan, namun dihadapi dengan bijaksana.
Komunikasi Empatik sebagai Materi Inti Kurikulum
Salah satu pengajaran yang sangat penting dari Rasulullah SAW adalah tentang komunikasi dengan empati. Beliau memperhatikan keluhan dari para istrinya, bahkan ketika yang disampaikan disertai emosi.
Ketika Aisyah r.a. merasa marah, Rasulullah SAW tidak membalas dengan kemarahan, tetapi sebaliknya, beliau memahami emosi tersebut dan berusaha untuk menenangkannya.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyatakan bahwa beliau dapat mengetahui kapan Aisyah r.a. merasa senang atau marah berdasarkan cara ia menyebut nama Allah (HR. Bukhari).
Studi yang dilakukan oleh John Gottman (1999) mengenai kestabilan pernikahan mengungkapkan bahwa pasangan yang dapat memahami perasaan satu sama lain dan memberikan respons dengan empati memiliki kemungkinan yang jauh lebih tinggi untuk mempertahankan hubungan mereka. Yang menarik, hasil temuan dalam psikologi kontemporer ini telah diterapkan oleh Rasulullah SAW lebih dari 14 abad yang lalu.
Mengelola Konflik Tanpa Merendahkan Martabat
Dalam permasalahan rumah tangga di zaman kini, tindakan kekerasan verbal sering kali diterima begitu saja, seperti membentak, merendahkan, atau mengungkit kesalahan di masa lalu. Namun, Nabi Muhammad SAW menekankan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang berbuat baik kepada keluarganya (HR. Tirmidzi).
Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Ali al-Hasyimi (2005) dalam karyanya Syakhsiyyah ar-Rajul al-Muslim menegaskan bahwa prinsip dasar yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam keluarga adalah menghormati pasangan, bahkan ketika menghadapi perselisihan. Tidak boleh ada cacian, penghinaan, dan penguasaan ego.
Ini sejalan dengan ide maslahah mursalah, yang menekankan pentingnya melindungi kehormatan dan stabilitas keluarga sebagai hal yang utama (dharuriyyat). Menyelesaikan konflik dengan merendahkan pasangan sebenarnya merusak tujuan sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Diam dan Jeda sebagai Metode Pendidikan Emosional
Rasulullah SAW juga menekankan signifikansi dari jeda emosional. Dalam berbagai riwayat, saat menghadapi perselisihan, beliau cenderung untuk mengambil sikap diam atau menjauh sejenak, bukan dengan maksud untuk menghindari, melainkan untuk menyejukkan keadaan. Pendekatan ini terbukti berhasil dalam meredakan perselisihan yang disebabkan oleh emosi yang sementara.
Studi yang dilakukan oleh Daniel Goleman pada tahun 1998 mengenai kecerdasan emosional mengungkapkan bahwa kemampuan untuk mengatur emosi sebelum mengambil tindakan dalam menghadapi konflik sangat penting untuk menjaga hubungan yang sehat.
Nabi Muhammad SAW telah menerapkan prinsip ini secara konkret, menjadikannya elemen yang sangat penting dalam “kurikulum keluarga”.
Keadilan dan Musyawarah sebagai Pilar Penyelesaian Konflik
Rasulullah SAW menegakkan keadilan bahkan dalam hal-perasaan. Saat bepergian, beliau mengundi giliran di antara istri-istrinya. Ini bukanlah sekadar formalitas, melainkan sebagai lambang keadilan yang menghindari terjadinya konflik yang tersembunyi.
Musyawarah juga berperan penting, seperti yang terjadi dalam peristiwa Hudaibiyah, ketika Rasulullah SAW menerima saran dari Ummu Salamah r.a., yang menunjukkan bahwa suara perempuan diakui dan dihormati.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Amina Wadud (2006) mengenai hubungan gender dalam konteks Islam, contoh yang diberikan oleh Rasulullah SAW menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam rumah tangga seharusnya bukan bersifat otoriter, melainkan merupakan suatu bentuk kerjasama yang didasarkan pada nilai-nilai moral dan emosional.
Urgensi Kurikulum Rumah Tangga Berbasis Teladan Nabi
Mengingat tingginya tingkat perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, serta konflik yang berkepanjangan, sudah saatnya umat Muslim mengembangkan kurikulum keluarga yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga profetik.
Kurikulum ini seharusnya meliputi pendidikan emosional, komunikasi yang empatik, tata krama dalam perbedaan pendapat, serta penyelesaian konflik yang berlandaskan akhlak Nabi Muhammad SAW.
Penelitian Khoiruddin Nasution (2010) menegaskan bahwa kegagalan rumah tangga Muslim modern sering kali bukan karena lemahnya iman, tetapi karena miskinnya keterampilan relasional. Di sinilah kurikulum ala Rasulullah SAW menemukan relevansinya.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad SAW bukan hanya seorang nabi dalam konteks ibadah, melainkan juga seorang pendidik keluarga yang ideal.
Beliau tidak menghindari konflik dalam rumah tangga, tetapi malah mampu mengelolanya dengan etika, kesabaran, dan kasih sayang. Jika contoh ini diterapkan sebagai kurikulum kehidupan yang diajarkan sejak sebelum menikah hingga dalam pengasuhan keluarga, maka konflik tidak akan menjadi ancaman, tetapi justru menjadi alat untuk mencapai kematangan dan memperkuat hubungan dalam rumah tangga.
Sebuah rumah tangga yang kuat tidaklah ditentukan oleh ketiadaan konflik, melainkan oleh cara penyelesaian konflik tersebut yang mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW, yakni dengan sopan santun, keadilan, dan fokus pada kasih sayang.
Penulis Dosen Fakultas Hukum Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas (UNISSAS)
Email : asmanarwan@gmail.com
