![]() |
| Juharis |
Oleh : Juharis
Mungkin budaya ini tidak saja hadir di masyarakat Melayu Sambas. Bisa jadi, ia diam-diam juga tumbuh di banyak sudut Indonesia. Saking dekatnya, kita kerap menganggapnya remeh. Padahal kalau dipikir-pikir, justru di situlah wajah kita sebagai masyarakat terlihat cukup jelas.
Namanya budaya sisa satu. Budaya ini familier. Hampir semua orang Melayu Sambas pernah terlibat. Entah sebagai pelaku atau korban situasi. Biasanya, ia muncul di momen makan bersama.
Bayangkan ini. Kamu duduk bersama kawan, menikmati kue lapis atau dalam dialek Sambas disebut "tambol. Obrolan mengalir, tawa bersahutan, tangan terus bergerak. Tiba-tiba tanpa disadari, tinggal satu potong terakhir di piring.
Di titik inilah drama kecil dimulai. Ada yang menyuruh, “Abise' dah Wak! sisa sigek ye”
Ada yang menolak halus, “Indak aku. Kau lah, Wak!"
Dan hampir selalu, ada satu kalimat pamungkas yang keluar, “Gayye ajak urang Melayu e.”
Kalimat itu seperti penutup diskusi. Tidak ada yang benar-benar ingin mengambil potongan terakhir. Tapi juga tidak ada yang benar-benar ingin terlihat ingin.
Sepintas, ini cuma soal kue yang tersisa satu. Sepele, tidak ada yang istimewa. Tapi kalau direnungkan, di situlah berkumpul berbagai lapisan sikap, etika, perasaan, bahkan strategi sosial.
Budaya sisa satu bisa dibaca sebagai tanda seseorang sudah kenyang atau sedang menjaga harga diri. Barangkali keduanya sekaligus.
Sebagai orang yang tumbuh di lingkungan Melayu Sambas, saya akan coba memaparkan beberapa alasan mengapa fenomena ini terus terjadi.
Pertama, soal sungkan.
Hari ini mungkin kita menyebutnya people pleaser. Perasaan tidak enakan yang membuat seseorang menahan diri, takut dianggap rakus atau dalam istilah Melayu Sambas "sallak". Tidak ingin terlihat terlalu lahap, apalagi sampai dicap tidak tahu malu.
Kedua, tenggang hati.
Ada asumsi diam-diam bahwa orang lain mungkin masih lapar. Maka, potongan terakhir itu seperti “jatah moral” untuk orang lain, bukan untuk kita.
Ketiga, menjaga wibawa.
Menahan diri bisa menjadi cara halus untuk membangun citra diri. Seolah kita orang yang bisa mengendalikan nafsu, tidak serakah, dan tahu batas.
Keempat, bentuk penghormatan.
Dengan tidak menghabiskan, ada semacam pesan tersirat bahwa makanan yang disajikan cukup, bahkan berlebih. Lalu kita merasa sudah lebih dari kenyang.
Dan yang kelima, ini yang paling unik.
Ada semacam kepercayaan klasik bahwa siapa yang makan terakhir, dialah yang akan berkemas, mencuci piring atau sekadar merapikan meja. Jadi, menahan diri kadang juga strategi bertahan hidup. wkwkwk
Menariknya, kalau ditarik ke perspektif agama, kebiasaan ini justru agak bertabrakan. Makanan yang tersisa bisa dianggap sebagai bentuk mubazir. Sesuatu yang seharusnya dihindari.
Di balik itu semua, budaya sisa satu menyimpan pelajaran yang layak dipikirkan. Ia bukan soal makanan yang tidak jadi dimakan semata. Ia adalah cermin dari cara kita hidup bersama.
Di sana ada keinginan untuk tidak mendahulukan diri sendiri. Ada upaya sekecil apa pun untuk memberi ruang bagi orang lain. Ada rasa kolektif, meskipun kadang terlihat canggung.
Jadi, budaya sisa satu bukan soal siapa yang tidak makan. Tapi tentang siapa yang berusaha tidak menjadi paling dulu.
Penulis adalah petani dan pemerhati kehidupan sosial lokal dari Jawai Kabupaten Sambas
