OPINI | Masa Depan Sarjana Muda di Kawasan Perbatasan Negara

Editor: Redaksi
Adimas Nuur Syaifullah


Gelar sarjana seharusnya bukan menjadi akhir perjalanan pendidikan, tetapi awal bagi generasi muda untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah.

Hal tersebut Saya sampaikan yang baru menyelesaikan pendidikan sarjana. Saya menyoroti tantangan sekaligus peluang bagi anak muda asal Kabupaten Sambas yang menempuh pendidikan tinggi di luar daerah.

Kita pergi keluar daerah untuk mencari ilmu. Setelah wisuda, pertanyaannya bukan hanya mau bekerja di mana, tetapi juga apa yang bisa kita bawa pulang untuk Sambas. Jangan sampai gelar bertambah, tetapi kontribusi untuk daerah justru berkurang.

Saya menilai kawasan perbatasan Sambas memiliki potensi besar yang semestinya dapat menjadi ruang tumbuh bagi para sarjana muda, mulai dari perdagangan, pariwisata, UMKM, ekonomi kreatif, teknologi, pertanian hingga pemberdayaan masyarakat.

Sarjana asal Sambas jangan selalu diposisikan hanya sebagai pencari kerja. Mereka juga harus dipersiapkan menjadi pencipta peluang, penggerak ekonomi, dan bagian dari solusi atas persoalan daerah.

Menurut saya pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan juga perlu menciptakan ekosistem yang membuat anak muda memiliki alasan untuk kembali dan berkarya di daerah sendiri.

Kita tidak bisa hanya meminta anak muda pulang. Daerah juga harus membuka ruang bagi mereka untuk tumbuh, bekerja, berwirausaha, berinovasi, dan terlibat dalam pembangunan.

Saya menegaskan, bahwa pembangunan kawasan perbatasan tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik. Kualitas manusia dan masa depan generasi mudanya juga harus menjadi ukuran keberhasilan.

Jangan hanya bertanya berapa banyak infrastruktur yang dibangun. Kita juga harus bertanya berapa banyak anak muda yang setelah wisuda mampu mendapatkan pekerjaan, membuka usaha, menciptakan lapangan kerja, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Saya juga berharap semakin banyak sarjana muda asal Sambas yang berani kembali membawa ilmu, pengalaman, dan gagasan untuk membangun kampung halaman.

Kita boleh pergi jauh untuk belajar dan mengejar cita-cita. Tetapi jangan lupa pulang. Karena daerah tidak hanya membutuhkan tenaga kita, tetapi juga ilmu, gagasan, dan keberanian kita untuk membangun.

Bagi saya Sarjana bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab baru sebagai generasi terdidik.

Sarjana bukan garis akhir. Setelah toga dilepas, pertanyaan sebenarnya dimulai: apa yang bisa kita lakukan untuk daerah?”


Penulis : Adimas Nuur Syaifullah, S.Sos, Tokoh Muda Kabupaten Sambas

Share:
Komentar

Berita Terkini