![]() |
| Dr Bayu, M. Pd |
Oleh: Dr. Bayu, M.Pd.
Bidang Keahlian: Manajemen dan Kebijakan Pendidikan
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan.
Kehadiran internet, media sosial, platform pembelajaran daring, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah membuka peluang yang luas bagi peserta didik untuk memperoleh pengetahuan secara cepat dan mudah.
Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat tantangan yang tidak kalah besar, yaitu bagaimana menjaga dan memperkuat karakter peserta didik agar tidak tergerus oleh dampak negatif digitalisasi.
Oleh karena itu, penguatan karakter menjadi agenda penting dalam penyelenggaraan pendidikan di era digital.
Digitalisasi pendidikan telah mengubah cara peserta didik belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi.
Informasi dapat diakses kapan saja dan di mana saja hanya melalui gawai yang dimiliki. Kondisi ini memberikan manfaat yang besar dalam meningkatkan akses terhadap sumber belajar.
Namun, tanpa kemampuan menyaring informasi dan tanpa fondasi karakter yang kuat, peserta didik rentan terpapar berbagai konten negatif, seperti hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber (cyberbullying), hingga perilaku konsumtif yang berlebihan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari pencapaian akademik semata.
Pendidikan harus mampu membentuk peserta didik yang memiliki integritas, tanggung jawab, disiplin, kejujuran, kepedulian sosial, dan kemampuan mengendalikan diri.
Nilai-nilai karakter inilah yang akan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di era digital.
Sekolah memiliki peran strategis dalam membangun karakter peserta didik. Penguatan karakter tidak hanya dilakukan melalui mata pelajaran tertentu, tetapi harus terintegrasi dalam seluruh aktivitas pendidikan.
Guru perlu menjadi teladan dalam sikap, perilaku, dan etika penggunaan teknologi. Keteladanan yang ditunjukkan oleh guru akan memberikan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan sekadar penyampaian teori di dalam kelas.
Selain itu, pembelajaran di era digital perlu diarahkan pada pengembangan literasi digital yang beretika.
Peserta didik tidak hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga dibimbing untuk memahami tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi tersebut.
Literasi digital yang baik akan membantu peserta didik menjadi pengguna teknologi yang cerdas, kritis, dan bijaksana dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di dunia maya.
Keluarga juga memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan karakter. Orang tua perlu melakukan pendampingan terhadap aktivitas digital anak, memberikan contoh penggunaan teknologi yang sehat, serta membangun komunikasi yang terbuka.
Kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi faktor kunci dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya karakter positif pada peserta didik.
Di sisi lain, penguatan karakter perlu disesuaikan dengan tantangan zaman. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, kerja sama, toleransi, dan empati harus terus ditanamkan melalui berbagai kegiatan pembelajaran dan pengalaman nyata.
Dalam masyarakat yang semakin terhubung secara digital, kemampuan menghargai perbedaan dan menjaga etika komunikasi menjadi keterampilan sosial yang sangat penting.
Pemerintah melalui berbagai kebijakan pendidikan juga perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pendidikan karakter.
Pengembangan kurikulum hendaknya tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pada pembentukan sikap dan nilai-nilai luhur bangsa.
Pendidikan karakter harus menjadi bagian integral dari seluruh proses pendidikan, bukan sekadar program tambahan.
Bagi daerah perbatasan dan wilayah terpencil, penguatan karakter memiliki arti yang lebih strategis.
Karakter yang kuat akan membantu peserta didik mempertahankan identitas budaya, nilai-nilai kebangsaan, serta semangat persatuan di tengah derasnya arus informasi global.
Pendidikan karakter menjadi benteng yang menjaga generasi muda agar tetap berakar pada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
Pada akhirnya, digitalisasi pendidikan merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Namun, kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter.
Teknologi dapat membantu manusia menjadi lebih cerdas, tetapi karakterlah yang akan menentukan bagaimana kecerdasan tersebut digunakan.
Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan di era digital tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menguasai teknologi, tetapi juga oleh kemampuan membentuk manusia yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Melalui sinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah, penguatan karakter peserta didik dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.
Dengan demikian, digitalisasi pendidikan tidak hanya menghasilkan generasi yang unggul secara akademik dan teknologi, tetapi juga generasi yang berkarakter kuat, berintegritas, dan siap menghadapi masa depan.
Penulis adalah Dosen Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas (UNISSAS)
