Pangeran Tarhan Protes, Simbol Kesultanan Alwatziekhoebillah Di pasang Warga di Tangaran

Editor: Redaksi

 

Simbol istana Alwatziekhoebillah dipasang warga di bangunan rumah di desa Pancur kecamatan Tangaran


Sambasnews.com (TANGARAN)-Pihak Kesultanan Alwatzikoebillah Sambas digegerkan dengan temuan simbol yang mirip dengan simbol kesultanan Sambas, pada satu bangunan rumah di desa Pancur kecamatan Tangaran kabupaten Sambas.

Simbol yang mirip seperti Burung Elang Laut dada putih dan bertuliskan Alwatzikoebillah, merupakan simbol milik kesultanan Alwatziekhoebillah.

Simbol lambang kesultanan Sambas tersebut dipasang tanpa persetujuan dari pihak kesultanan Alwatzikoebillah Sambas, sehingga pihak istana memprotes tentang pemasangan simbol tersebut.

Pemakaian simbol milik kesultanan Alwatziekhoebillah tersebut, membuat Budi, Kades Pancur kecamatan Tangaran, mengirimkan surat kepada istana Alwatziekhoebillah dengan tujuan silaturahmi.

Sehingga pemerintah desa Pancur, menggelar silaturahmi dengan mengundang pihak kerabat Kesultanan Alwatziekhoebillah Sambas, Senin (15/11/2021).

Pewaris tahta kesultanan Alwatzikoebillah, YM Pangeran Ratu Muhammad Tarhan, S.Pd mengatakan, pemasangan simbol lambang tersebut harus meminta izin kepada pihak istana Alwatziekhoebillah terlebih dahulu agar tidak disalah gunakan kemudian hari.

"Saya menyayangkan kepada pemilik bangunan, 

Gustian Randa untuk tidak melakukan hal tersebut dikarenakan lambang tersebut adalah simbol marwah kesultanan Sambas, yang ada di istana Alwatzikoebillah," kata YM Pangeran Ratu Muhammad Tarhan, Senin, (15/11/2021)

Pangeran meminta kepada pihak yang akan memasang simbol lambang istana agar  membuat administrasinya ke pihak kesultanan dan nantinya akan di seleksi.

"Untuk Simbol tersebut baik untuk organisasi dan apapun itu menyangkut simbol lambang 

Alwatzikoebillah, alangkah baiknya untuk meminta izin terlebih dahulu ke istana, dengan melengkapi surat-surat kelengkapan administrasi," tegasnya.

Sebagai tindaklanjut atas persoalan tersebut, Pemerintah Desa Pancur kemudian mengundang kerabat Kesultanan Sambas untuk hadir dalam kegiatan sosialisasi, tentang kelembagaan kesenian dan kebudayaan yang dimotori oleh Pemerintah Kabupaten Sambas pada Senin 15 November kemarin.

Gustian Randa, pemilik bangunan rumah tersebut mengatakan rumah yang mirip dengan Istana Alwatziekhoebillah tersebut dia bangun dengan uang pribadi tanpa dibantu siapapun. 

Dia ingin marwah Istana Alwatziekhoebillah tetap terjaga di kampung kelahirannya.

“Saya hanya ingin seni dan budaya kita tetap terjaga. Saya tidak mengerti seperti apa aturan yang harus diikuti jika ingin membuat rumah seperti itu,” katanya.

Istana Alwatzikoebillah merupakan istana Kesultanan Sambas, yang menjadi pusat pemerintahan di Sambas hingga berakhirnya kekuasaan kesultanan.

Kesultanan Sambas sendiri telah berdiri cukup lama, sehingga namanya sempat tercatat di kitab Negara Kertagama karya Prapanca. Dibangun pada 1675, Kesultanan Sambas merupakan generasi penerus dari beberapa Kerajaan Sambas yang sebelumnya telah berdiri di sisi Sungai Sambas.

Share:
Komentar

Berita Terkini