![]() |
| Ilustrasi bantal |
Oleh: Juharis
Ada satu hal yang sering terlambat kita sadari setelah menikah. Yaitu rumah tangga tidak cuma soal cinta, tapi juga soal daya tahan.
Kadang tahan lapar, tahan gengsi, tahan emosi, bahkan tahan mendengar kalimat, “Terserah abang aja,” yang sebenarnya sama sekali tidak berarti terserah.
Bagi kita yang sudah menikah, petuah rumah tangga mungkin bukan barang baru. Dari orang tua, ceramah pengajian, buku motivasi, sampai unggahan Facebook yang puitis bak pujangga. Semuanya seperti tidak pernah lelah mengajari cara menjadi suami atau istri yang baik.
Saya sendiri sudah enam tahun menikah. Belumlah terlalu lama memang, apalagi dibanding para sepuh yang usia pernikahannya sudah cukup untuk menghasilkan anak kuliahan, cucu, bahkan konflik warisan.
Tapi enam tahun itu sudah cukup membuat saya paham bahwa pernikahan tidak selalu semanis foto prewedding.
Ada hari-hari ketika rumah terasa seperti surga kecil. Ada pula hari ketika suara sendok jatuh saja bisa terasa seperti kode dimulainya perang dingin.
Dari enam tahun itu, saya belajar bahwa pernikahan ternyata penuh hal di luar dugaan.
Banyak asumsi sebelum menikah yang tumbang pelan-pelan seperti pagar kayu dimakan rayap. Dulu kita mengira cinta saja cukup. Ternyata tidak. Gas LPG juga penting!
Hari ini saya kembali diingatkan tentang nasihat pernikahan. Kami diundang ke acara pernikahan anak salah seorang kawan seduduk pengajian.
Acaranya agak berbeda dari kebiasaan masyarakat Melayu Sambas pada umumnya. Biasanya, di hari pernikahan akan ada serakalan dengan syair-syair pujian yang menggema dari pengeras suara.
Tapi kali ini, serakalan seperti mengambil cuti sehari. Diganti dengan tausiyah pernikahan. Dan anehnya, justru terasa lebih mengena.
Mungkin karena setelah menikah, orang tidak terlalu butuh teori tentang cinta. Kita lebih membutuhkan petunjuk bertahan hidup bersama manusia lain yang tidur bertetangga bantal, tapi kadang isi kepalanya lebih sulit ditebak daripada harga cabai.
Acara berlangsung di rumah mempelai perempuan. Seperti lazimnya di Sambas, para tamu duduk di tarup. Yakni tenda panjang dari kayu, bambu, papan, dan terpal yang kalau hujan deras bunyinya bisa kalah dramatis dari film laga. Sekarang tarup sudah lebih modern.
Ada campuran besi dan kayu, bongkar-pasang, seperti hubungan sebagian orang yang praktis dibangun, praktis pula dibubarkan.
Di sanalah Ustadz Arwi Fauzi Asri menyampaikan nasihat tentang rumah tangga. Saya mendengar dan mencatatnya di gawai sambil meneguk air mineral tawar di gelas plastik tipis yang kadang berbunyi “kletek” saat diremas pelan.
Rasanya sederhana sekali. Tapi justru di suasana sesederhana itu, nasihat-nasihat pernikahan terasa lebih jujur masuk ke kepala.
Nasihat itu berasal dari Umamah binti Al-Harits kepada anaknya, Ummu Iyas, pada hari pernikahannya.
Intinya bersahaja, tapi diam-diam menampar. Jadilah pasangan yang tahu cara merasa cukup dan bergaullah dengan penuh ketaatan.
Jagalah penampilan dan kebersihan diri. Pahami waktu lapar dan lelah pasangan. Pandai mengatur harta. Menjaga kehormatan keluarga. Tidak membuka aib pasangan sendiri.
Kelihatannya biasa saja. Bahkan mungkin terlalu sering kita dengar. Tapi justru di situlah masalahnya.
Nasihat pernikahan sering kalah oleh ego harian. Kalah oleh nada bicara yang meninggi karena urusan sepele. Kalah oleh kebiasaan merasa paling benar. Padahal dalam rumah tangga, menang debat tidak selalu berarti menang kehidupan.
Kadang yang membuat rumah tetap utuh bukan karena dua orang selalu cocok, tapi karena keduanya masih mau belajar merendahkan kepala.
Sepulang dari acara itu saya diam karena kekenyangan. Lalu dalam hati bertanya kepada diri sendiri, sudahkah saya benar-benar menjadi pasangan yang baik? Atau jangan-jangan selama ini saya cuma merasa sudah baik?
Mungkin memang begitulah pernikahan. Ia bukan tentang siapa paling sempurna, melainkan siapa yang masih mau memperbaiki diri meski sudah sama-sama tahu buruknya masing-masing.
Dan barangkali, cinta yang paling dewasa bukan lagi soal degup jantung seperti di film-film. Tapi tentang dua orang yang tetap memilih pulang satu sama lain, meski sama-sama sedang lelah oleh hidup.
Penulis adalah petani dan pemerhati kehidupan sosial lokal di Jawai Kabupaten Sambas
