![]() |
| Juharis |
Oleh : Juharis
Bahasa kadang menyimpan keunikan yang tidak langsung bisa dipahami hanya lewat tulisan. Ada kata yang tampak sama, tetapi ketika diucapkan melahirkan makna berbeda.
Ada pula bunyi yang sedikit berubah, namun mampu menggeser pengertian secara keseluruhan. Fenomena seperti ini bukanlah hal baru.
Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kekayaan tutur semacam itu, termasuk dalam masyarakat Melayu Sambas.
Para pengkaji bahasa sebenarnya sejak lama telah menaruh perhatian terhadap gejala tersebut. Berbagai istilah dan pengelompokan ilmiah pun lahir untuk menjelaskannya.
Namun kali ini aku tidak ingin membawa tulisan ini terlalu jauh ke ranah teori. Selain karena aku sendiri belum terlalu mafhum memahaminya, tulisan ini juga ingin kubawa dengan cara yang lebih santai dan reflektif. Biar mudah dibaca sambil ngopi.
Di tengah masyarakat Melayu Sambas, ada dua kata yang menarik untuk dimaknai: "lampang" dan "lampong". Sekilas tampak sederhana. Bedanya hanya satu huruf vokal. Namun dalam pengucapan sehari-hari, keduanya memiliki nuansa makna yang unik.
Kata "lampang" misalnya, jika diberi imbuhan be- menjadi "belampang". Dalam percakapan masyarakat, kata ini sering dipakai untuk menggambarkan bunyi yang nyaring dan terasa dekat. Sejenis suara yang kerasnya seperti menghantam telinga secara tiba-tiba.
Contohnya dalam ungkap, “care belampang lalu bunyi lentar.”
Kalimat itu menggambarkan suara halilintar yang sangat keras dan mengejutkan. Ada kesan bunyi yang membelah suasana, membuat orang spontan menoleh atau bahkan terkejut.
Namun menariknya, ketika kata "lampang" berdiri sendiri tanpa imbuhan, maknanya justru berbeda. Secara sederhana, ia dapat dipahami sebagai aktivitas memotong sesuatu pada permukaan yang lebar.
Dalam pengucapan masyarakat tertentu, khususnya di wilayah Kecamatan Jawai, penyebutannya terdengar seperti terpisah, "la-mpang".
Perbedaan cara menyebut ini juga menjadi penanda bahwa bahasa daerah tidak pernah benar-benar tunggal. Dalam satu kabupaten saja, logat dan tekanan bunyi bisa berubah-ubah.
Kadang dipengaruhi letak geografis, kadang pula akibat percampuran masyarakat tempatan dengan pendatang dari wilayah hulu maupun hilir.
Lalu ada lagi kata "lampong". Dalam pemahaman masyarakat sehari-hari, "lampong" berarti ringan. Sesuatu yang mudah diangkat atau tidak terasa berat.
Kata ini sering dipakai untuk menggambarkan benda yang enteng atau pekerjaan yang terasa mudah dilakukan.
Tetapi keunikan bahasa Melayu Sambas kembali terlihat ketika kata itu diberi imbuhan be- menjadi "belampong". Maknanya justru berubah mendekati "belampang", yakni menggambarkan suara yang nyaring atau keras.
Misalnya dalam ungkapan, “Belampong suare marcu.” Artinya suara petasan yang nyaring dan kuat terdengar.
Di titik ini kita seperti diingatkan bahwa bahasa tidak selalu bekerja dengan logika yang lurus. Kadang satu bunyi bisa berjalan ke banyak arah. Kadang pula dua kata yang berbeda justru bertemu pada makna yang sama ketika diberi imbuhan tertentu.
Barangkali inilah yang membuat bahasa daerah terasa hidup. Ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga jejak cara masyarakat memandang dunia.
Dari bunyi halilintar, suara petasan, hingga cara menyebut sesuatu yang ringan. Semuanya tersimpan dalam pilihan kata yang diwariskan turun-temurun.
Dan mungkin, di situlah indahnya bahasa Melayu Sambas. Ia tidak hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk dirasakan.
